kolom-opini ON 19 Mar 2018
4906

Ketika Gempa Mendera Dan Bumi Bergetar

Ditulis Oleh Agus Puji Prasetyono

Sudah suratan kita dilahirkan, berkehidupan dan berkarya di Bumi Indonesia yang kaya akan Gunung Berapi tertebar di penjuru tanah air, juga sejumlah pertemuan lempeng bumi yang semua itu mengakibatkan potensi terjadi gempa bumi yang dahsyat. Tuhan mensuratkan ini bukan untuk kita hindari dan lari berpindah kepenjuru bumi yang lain, tetapi semestinya kita siasati agar jika gempa itu datang, akibatnya dapat kita minamilisir dan bahkan dihindari. Akibat yang timbul dari gempa dahsyat itu bukan tidak mungkin untuk kita hindari, tetapi dengan menerapkan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kita yakin dan percaya akan mampu mengantisipasinya dengan sempurna.

Di sisi lain tahukah kita, bahwa di tempat di mana banyak terdapat gunung berapi dan pertemuan lempeng bumi, disitulah terdapat sumber mineral dan tambang yang melimpah, muka bumi yang subur, sehingga kehidupan dan peradaban manusia akan berkembang dengan cepat dan maju.

Kemampuan prediksi peristiwa yang terjadi di alam terutama dibidang kegempaan kian berkembang meskipun belum bisa dikatakan sempurna. Hal itu terlihat dari beberapa kali terjadi gempa lepas dari perkiraan para ahli, sehingga tak terelakkan bagi sementara warga yang bermukim di daerah tertentu secara periodik masih dirundung gempa bumi dahsyat yang bisa memporak-porandakan harta benda mereka karena ketidak siapan warga dalam mengantisipasinya. Peralatan deteksi gempa yang sering dibuat dan direkayasa oleh para peneliti, perekayasa dan akademisi belum sepenuhnya dapat diandalkan dalam memberi kalkulasi akurat informasi menjelang terjadinya gempa.

Gempa yang sering terjadi di Indonesia secara sederhana dapat dibagi dalam tiga jenis utama yaitu gempa vulkanik, tektonik dan runtuhan. Gempa bumi vulkanik disebabkan oleh tersumbatnya magma yang secara akumulatif menaikkan tekanan dan berakhir dengan timbulnya ledakan yang dahsyat dibarengi dengan semburan magma dan udara panas yang keluar dari kawah gunung. Gempa bumi tektonik terjadi akibat dari lepasnya energi akibat tekanan lempeng yang bergerak, bergeser dan menubruk lempeng lainnya di dalam bumi. Gerakan itu menimbulkan energi dan tekanan yang sangat tinggi, sehingga ketika kedua lempeng saling menekan, dapat berakhir dengan pergerakan yang dapat menimbulkan gempa. Pergerakan itu tidak hanya terjadi ketika lempeng saling bertumbukan, namun juga dapat terjadi ketika saling bergerak menjauh. Lempeng  yang saling menjauh ini memiliki berat jenis yang lebih kecil, sehingga ketika mendapatkan tekanan, lempeng itu akan melepas energi yang besar. Sebaliknya lempeng yang saling mendekat. Terdapat juga gerakan lempeng yang saling mendekat sedemikian sehingga terbentuk gunung. Akibat gerakan ini, tinggi gunung akan semakin menjulang disamping tekanan yang dapat mengakibatkan gempa bumi yang dahsyat.

 

Peralatan Pengukur Gempa

Seismometer adalah peralatan yang digunakan untuk mengukur gerak tanah, gelombang seismik akibat dari gempa bumi, gerak akibat letusan gunung berapi, serta sumber gempa bumi lainnya. Hasil rekaman seismometer ini mengiformasikan data kepada para ahli gempa untuk kemudian memetakan, mencari dan mengukur sumber dan jenis gempa dari sudut pandang yang berbeda.

Seismograf merupakan perangkat untuk merekam gempa bumi. Seismograf terdiri dari gantungan pemberat dan ujung runcing seperti jarum, untuk sedemikian sehingga dapat bergerak bebas untuk mengetahui kekuatan dan arah gempa melalui pola gerakan bumi yang dicatat dalam bentuk seismogram. Seismometer dan seismograf merupakan instrumen untuk merekam gerakan tanah akibat adanya gempa bumi, gerakan tanah akibat letusan gunung berapi, gempa akibat ledakan serta gempa lainnya. Perbedaannya adalah bahwa Seismograf mampu menggabungkan pengukuran dan pencatatan secara terintegrasi.

Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa, yaitu skala Omori, Mercalli, Cancani, dan Richter. Skala richter merupakan skala yang paling terkenal, serta yang paling sering digunakan untuk mengukur kekuatan gempa, umumnya disebut dengan magnitude dan disingkat M. Berdasarkan skala-skala ini, kita dapat memahami potensi kekuatan gempa bumi yang pada akhirnya berguna dalam perencanaan tata kota. Seperti desain jalan raya, konstruksi bangunan, jembatan layang, bandara, dan lain-lain.

Berdasarkan skala Richter, kekuatan gempa bumi dapat dibagi menjadi: a) Skala > 3,5 terekam, namun biasanya tidak terasa; b) Skala 3,5-5,4 sering terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan; c) Skala < 6,0 berpotensi menyebabkan kerusakan berat pada bangunan yang kurang kuat; d) Skala 6.1-6.9 berpotensi menyebabkan kerusakan fisik dan memakan korban jiwa sampai radius 100 km; e) Skala 7.0-7.9 tergolong gempa besar, berpotensi menyebabkan kerusakan serius dengan cakupan wilayah yang luas; dan f) Skala > 8  gempa bumi besar, berpotensi menyebabkan kerusakan serius, dengan cakupan wilayah beberapa ratus kilometer. Dengan semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dekade terakhir alat pendeteksi dan pencatat gempa telah dilengkapi dengan hasil catatan yang lebih akurat dan detail.

 

Indonesia Kaya akan Gunung Berapi

Berbicara tentang gunung berapi di Indonesia, memiliki sejumlah sekitar 150 gunung berapi yang secara geografis didominasi oleh gunung berapi yang terbentuk akibat zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Gunung berapi di Indonesia meliputi gunung  bawah laut, fumarol, stratovulkan, supervulkan, kaldera, perisai, dan bentuk kompleks. Gunung berapi di Indonesia merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik, mengakibatkan letusan yang cukup dahsyat. Beberapa gunung api terkenal karena letusannya, misalnya Krakatau, yang letusannya berdampak secara global pada tahun 1883. Dentuman supervulkan yang mengakibatkan terjadinya Danau Toba pada  74.000 tahun yang lalu menyebabkan terjadinya musim dingin vulkan selama enam tahun. Selain itu, Gunung Tambora dengan letusan paling hebat yang pernah tercatat dalam sejarah pada tahun 1815.

 

Megathrust 8.7 SR dan Peta Sumber Bahaya Gempa Bumi

Wilayah Indonesia terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga rawan gempa bumi, oleh karena itu,  pemerintah, didukung para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga/ kementerian, telah melakukan upaya dan langkah mitigasi gempa bumi di Indonesia, diantaranya  telah menerbitkan buku Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017 yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk mendesain konstruksi bangunan di daerah rawan gempa bumi, dengan mempertimbangkan percepatan tanah akibat perambatan gelombang gempa.

Peta tersebut dibuat hasil kajian para pakar gempa bumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun. Gerakan penunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan  maksimum yang diperkirakan dapat mencapai 8,7 SR. Langkah-langkah mitigasi gempa bumi tersebut perlu segera dilakukan.

Meskipun para ahli mampu menghitung perkiraan magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, teknologi saat ini belum mampu memprediksi dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust. Dalam ketidakpastian tersebut, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah konkret yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi. Khususnya dengan menyiapkan kesiapan masyarakat maupun inftrastrukturnya.

 

Tsunami dan Tsunami Drill

Tsunami adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (tsu artinya lautan, nami berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Tsunami timbul akibat adanya gempa yang terjadi di dasar laut, kecepatan gerak gelombang yang ditimbulkan sangat dapat memiliki kecepatan 1.000 km per jam, setara dengan kecepatan rata-rata pesawat udara dan tingginya bisa mencapai 6 sampai 14 meter sampai 30 meter. Lama waktu hantaman Gelombang tsunami biasanya sekitar  selama 5 sampai 30 menit. Sedemikian besar dan cepatnya, kita nyaris tidak sempat melarikan diri. Gelombang tsunami dapat melintasi lautan termasuk Lautan Pasifik. Gelombang tsunami yang terjadi di Pulau Sumatra mencapai Jepang, India, Sri Lanka, Thailand, dan beberapa negara di Asia Timur dengan kekuatan yang cukup tinggi. Tidak semua tsunami bersifat mematikan, ada juga yang kecil atau bersifat lokal, namun tsunami yang besar dapat menghancurkan sebuah kota, seperti yang terjadi di Banda Aceh.

Kepulauan Indonesia, di wilayah aktivitas seismik, sangat rentan terhadap gempa bumi dan risiko tsunami tinggi. Sebagaimana yang terjadi di Aceh, sebagian besar ujung barat laut Sumatra hancur akibat tsunami tahun 2004, tidak kurang dari sejumlah 170.000 orang meninggal atau hilang. Sejak saat itu, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kesiapan menghadapi bencana Gempa dan Tsunami. Karena itu sistem peringatan yang akurat dan mahal dipasang di titik-titik tertentu yang diperkirakan terjadi lintasan gempa dan tsunami. Tidak hanya itu, pemerintah juga melakukan latihan evakuasi periodik. Diantara latihan yang dilakukan, tsunami drill juga dilakukan satu hari setelah ulang tahun keempat tsunami Samudera Hindia yang menghancurkan desa-desa pesisir di beberapa bagian Asia pada tanggal 26 Desember 2004, menewaskan sekitar 230.000 orang.

Dalam Tsunami Drill, polisi dan tentara juga disiagakan untuk melakukan kesiap-siagaan dan mensimulasikan penyelamatan orang-orang yang terjebak di dalam pusat perbelanjaan dan di toko dua lantai, sementara layanan darurat diuji untuk kesiapan mereka. Simulasi ini membantu mengetahui apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat dan dalam tekanan kebingungan. Para ahli mengatakan bahwa kesiap-siagaan bencana di Indonesia adalah sebuah karya yang sedang berjalan dan sebagian besar negara masih belum tercakup. Sistem peringatan dini di Indonesia memiliki peralatan yang terus dikembangkan untuk mendeteksi kejadian peringatan dini Tsunami. Jika terjadi gempa yang menimbulkan Tsunami, Pemerintah mengirimkan peringatan tsunami dalam lima menit setelah terjadi gempa bawah laut, namun para ahli mengatakan bahwa hal tersebut akan bisa mendeteksi secara efektif jika Indonesia memasang sedikitnya 22 pelampung, 120 alat pengukur pasang surut dengan rekaman digital, dan 160 seismograf.

Lesson learn

Suasana yang kacau pada saat gempa mendera, bumi berguncang dan tsunami melanda, memaksa kita untuk melakukan penyiapan secara terintegrasi, antara lain:

Peringatan dini dan simulasi bencana. Infrastruktur dan simulasi penanganan Gempa dan tsunami perlu terus dilakukan secara berkala, bertujuan agar dapat mengurangi kebingungan dan meningkatkan ketenangan masyarakat ketika gempa dan tsunami terjadi sehingga memudahkan evakuasi.

Memerkuat kualitas dan mutu bangunan. Perkuatan bangunan dengan konstruksi tahan gempa perlu dilakukan, dalam hal ini pakar dan para ahli dibidang konstruksi perlu diberi ruang yang kuas untuk menciptakan bbangunan dan system konstruksi tahan gempa dan tsunami.

Respons masyarakat terhadap bencana. Pemerintah daerah atau pemerintah lokal dilatih secara khusus untuk mengumumkan terjadinya bencana dan melakukan evakuasi secara cepat. Mereka juga dilatih untuk mendistribusikan makanan dan selimut di tempat-tempat penampungan. Selain itu di stasiun kereta, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan gedung-gedung publik dibekali pelatihan penanganan gempa, termasuk jalur evakuasi secara terstruktur.

Penanganan Kondisi darurat. Pemerintah Daerah harus bisa memastikan bahwa pusat pembangkit energi dan kereta bertenaga listrik, system industri bertenaga istrik dan sejenisnya akan mati secara otomatis ketika bumi bergetar dalam batas tertentu. Evakuasi harus dilakukan dengan instruksi yang tegas dari pemerintah dalam memindahkan masyarakat hingga jarak aman terhadap bencana. Perlu mempertimbangkan energi Baru dan Terbarukan seperti energi matahari untuk penerangan darurat.

Penulis : Agus Puji Prasetyono

Staf Ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Bidang Relevansi dan Produktivitas. Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.