SIARAN PERS

No. 07/SP/HM/BKKP/I/2017

Yogyakarta, 30 Januari 2017

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menyebutkan salah satu permasalahan yang masih dihadapi Indonesia yakni belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan jumlah dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan.

Kurang dikenalnya penelitian anak negeri di tingkat global antara lain diakibatkan rendahnya publikasi global para peneliti tersebut. Oleh karena itu, untuk
mendorong kultur publikasi serta upaya mewujudkan kemandirian anak negeri, Pemerintah melalui Kementerian Riset, teknologi dan Pendidikan Tinggi membangun Science and Technology Index yang diberi nama SINTA.

Daya saing Indonesia memang sedang menurun dari peringkat 37 pada tahun 2015 keperingkat 41 pada tahun 2016. Penurunan ini sejalan dengan rendahnya belanja R&D yang baru mencapai 0,2% per Gross Domestic Product (GDP). Sehingga indikator R&D yang terdiri dari publikasi, kekayaan intelektual, dan prototipe masih belum optimal. Sumber belanja R & D di Indonesia juga masih didominasi 75% oleh anggaran pemerintah.

Sinta-Science & Technology Index merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti/penulis/author, kinerja jurnal, kinerja institusi Iptek.

Menristekdikti menyebutkan sistem yang selama ini sudah ada sebelumnya di Indonesia tidak operasional disebabkan beberapa hal. Pertama karena inkosistensi dukungan tidak digunakan sebagai instrumen penentu dalam implementasi kebijakan seperti akreditasi, jabatan fungsional, dan lain-lain, sehingga data tidak ter-update dan akhirnya mati. Kemudian mekanisme pengolahan data tidak sinergis dengan instansi yang memiliki tugas dan fungsi. Lalu sistem input data belum digital sehingga sulit berkembang.

Lalu apa yang membedakan Sinta dengan sistem lain yang telah ada sebelumnya di Indonesia? Hal tersebut diantaranya, pada Sinta terdapat fungsi relasi, sitasi dan pengindex sementara yang lain hanya relasi dan sitasi saja. Sinta juga menggunakan sistem entry exit digital dan dikelola secara multisektor yang mempunyai tugas dan fungsi sinergis yakni Kemenristekdikti dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menristekdikti menegaskan adanya sistem ini tidak lain adalah untuk terus mendukung para peneliti dapat terus melakukan penelitian.

“Sistem ini memang masih jauh dari sempurna karena memang baru dimulai. Namun akan terus disempurnakan,” ujarnya saat Rakernas Kemenristekdikti 2017 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sistem ini ke depan juga akan menjadi bagian untuk mendorong kenaikan jabatan fungsional dosen dan juga peneliti. Lebih lanjut Menristekti mengemukakan target publikasi pada tahun 2017 sendiri sebesar 15.000 – 17.000 jumlah publikasi. Sistem ini diharapkan mampu memotivasi para peneliti untuk lebih giat menghasilkan publikasi.

##