JAKARTA – Pertemuan ke-2 Kelompok Kerja Pendidikan Tinggi dan Riset, Indonesia dan Inggris, dilaksanakan pada hari Selasa, 27 November 2018, di Kantor Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Menristekdikti  Mohamad Nasir dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik, membuka pertemuan dengan saling mengapresiasi atas upaya yang telah dilakukan oleh Komite Dikti dan Riset Indonesia dan Inggris.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengharapkan pertemuan ke-2 ini dapat digunakan oleh masing-masing tim pengarah Indonesia dan Inggris untuk selalu saling tukar menukar informasi tentang kebijakan Iptekdikti, kolaborasi akademik dan riset, pelatihan bahasa Inggris, kerjasama di bidang politeknik.

Selain itu Menristekdikti juga mengundang Universitas Inggris maupun Professor dari Inggris, untuk datang ke Indonesia dan berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi di Indonesia, dalam hal menciptakan program-program bersama dalam berbagai progam pendidikan, ristek dan inovasi.
Adapun, empat program kerjasama yang dapat teridentifikasi adalah:

  1. Kolaborasi program akademik, seperti pembelajaran mutu (mutual recognition), dual degree dan blended learning,  pendidikan jarak jauh berbasis e-online academic, pertukaran pelajar dan dosen.
  2. Kemitraan kelembagaan diarahkan untuk menentukan tema dari vocational higher educaton (VHE) school  atau politeknik dalam kerjaama di bidang VHE.
  3. Selain itu, kedua Negara juga menaruh minat yang besar pada pengembangan Science and Technology Park (STP) , peningkatan program beasiswa dan World Class Professors.(WCP)
  4. Kolaborasi riset teknologi dan inovasi melalui program Newton Fund .Yang Mulia (YM)  Moazzam Malik, selaku Duta Besar UK untuk Indonesia menyampaikan bahwa Inggris sangat menghargai komitmen yang sudah diberikan oleh Indonesia, beliau juga berterima kasih kepada Menristekdikti dan jajarannya, yang  telah menjadi tuan rumah pertemuan ke-2 dari Komite Kerja ini.

Dubes Inggris juga mengapresiasi bawa Indonesia saat ini sedang gencar melakukan investasi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai lini. Sehingga Inggris mengharapkan untuk dapat menjadi partner (mitra) terdepan Indonesia dalam mendukung upaya Indonesia, untuk memproduksi SDM kompeten, berkualitas dan unggul,  yang mampu bersaing dalam forum Internasional, termasuk di kawasan regional maupun tingkat dunia.

Indonesia dan Inggris juga telah memiliki konsep mekanisme kerja sama, khususnya dalam program double degree, blended learning yang dapat menjadi preliminary program, sehingga dapat membuka peluang kerja sama pendidikan tinggi lainnya.

Khusus dalam bidang pendidikan vokasi, Inggris menawarkan program pendidikan baru yang dapat diimplementasikan pada tahun 2019.
Mengenai program pendanaan riset Newton Fund yang sudah berjalan saat ini, merupakan suatu flagship program dalam ruang lingkup kerjasama Indonesia dan Inggris. Kolaborasi riset Newton Fund ini sangat menguntungkan, tidak hanya bagi peneliti Indonesia Inggris yang terlibat, tetapi juga memacu mobilitas peneliti dari Kedua Negara untuk bertukar pengalaman dan kesempatan bagi peneliti di ke dua Negara untuk saling berbagi pengalaman.

Pihak Inggris juga menekankan pentingnya progam pendidikan dan pelatihan Bahasa Inggris untuk SDM Millenials Indonesia, karena telah disadari bahwa lebih dari 95% perguruan tinggi di dunia, menggunakan Bahasa Inggris dalam program pendidikannya.  Selain itu, penguasaan bahasa Inggris oleh SDM muda Indonesia dapat menambah nilai kompetensi dari para pelajar Indonesia, sehingga lulusan Perguruan Tinggi dapat berkomunikasi dengan baik di tingkat Internasional.

Pada Pertemuan ke-2 JWG RI dan UK, Delegasi Indonesia dipimpin oleh Prof. Ainun Na’im, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, sedangkan pihak Inggris di Jakarta dipimpin langsung oleh YM Duta Besar Inggris, Moazzam Malik, dan pihak Inggris di London di pimpin Shahid Omer, Head of International Higher Education and European Union Exit, Department of Education.

Adapun delegasi Inggris di Jakarta yang datang pada pertemuan adalah Rob Fenn (DHM), Paul Smith (Director British Council – BC), Ian Robinson (Deputy Director BC), Femmy Soemantri (BC), Rachmalia Nikijuluw (BE- DIT), Mildred Pantouw (BE), Audrie Sanova (BC), dan Theresa O’Mahony-Heer (BE).

Sementara delegasi Indonesia terdiri dari Prof Ainun Naím Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Dr Patdono Soewignyo, Dirjen Kelembagaan Iptekdikti, Prof. Ali Ghufron Mukti, Dirjen Sumber Daya Iptekdikti, Dr Muhammad DImyati,  Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Iptekdikti Hari Purwanto,  Nada D.S. Marsudi Paristiyanti Nurwardani,  Ophirtus Sumule, Bunyamin Maftuh, Ridwan, Nur Trie Aris, Mila Kencanawati, Suratno, Dedi Saputra,  Windie Nababan,  Baginda,  Dinny Afifi,  Nena Melia,  Indah,  Annisa Anwar,  Suryo Budiono.

Prof. Ainun Na’im yang membuka jalannya diskusi menyoroti beberapa agenda penting yang sedang menjadi fokus institusi khususnya mengenai:

  1. Integrasi kegiatan riset dan teknologi yang ada di Indonesia untuk bisa lebih produktif dan menguntungkan untuk masyarakat.
  2. Pendanaan dari sektor swasta dan umum termasuk Endowment Fund, untuk mendukung pengembangan Iptek dan Inovasi.
  3. Pengembangan SDM  dalam dunia riset, teknologi dan inovasi,  khususnya dalam lingkup dunia penelitian,  untuk dapat lebih berkontribusi memajukan sains di Indonesia.
  4. Diharapkan bahwa kebijakan dan peraturan yang ada di Inggris dapat membantu memperkuat dan keberlangsungan kolaborasi dengan Indonesia kedepannya.

Dr. Shahid Omer, selaku co-chair  pertemuan ke-2 ini, memberikan tanggapan mengenai kebijakan dalam bidang riset dan pendidikan tinggi bahwa peraturan dan kebijakan yang ada di Inggris selama ini bersifat mendukung perkembangan dan inovasi riset dan teknologi Inggris, yang tidak hanya berdampak dalam skala nasional namun juga internasional.

Di dalam bidang pendidikan tinggi, Inggris juga kerap melakukan kerjasama melalui berbagai aktivitas di lingkup universitas, seperti halnya:

  • Pada tahun 1950 Inggris memiliki program beasiswa untuk membangun capacity building dan kemitraan dengan negara lain di dunia.
  • Sejak tahun 1999 Inggris juga memiliki kebijakan bidang pendidikan tinggi yang bertujuan untuk dapat meningkatkan kemitraan/ dengan institusi internasional dan mendukung pendidikan jarak jauh Inggris.
  • Inggris juga memiliki kebijakan mengenai Education Quality Assurance, dan pada tahun 2017 kebijakan Inggris mengenai pendidikan tinggi  menjadi lebih ekstensif, yang memastikan bahwa pendidikan di Inggris dapat dimiliki oleh berbagai kalangan ekonomi, namun tetap mempertahankan kualitas dan reputasi secara internasional.

Penutup
Pertemuan Kedua Komite Kerja Bersama (KKB) bidang Dikti, Riset, dan Inovasi ini ditutup oleh Sekretaris Jenderal Ainun Naím dan YM Dubes Moazzam Malik, dengan menghasilkan beberapa butir kesepakatan sebagai berikut:

  1. Melihat adanya beberapa potensi dalam mengembangkan beberapa bidang kerja sama dan kolaborasi yang telah dikomitmenkan antara kedua belah pihak, maka Indonesia dan Inggris dapat memberikan upaya maksimal untuk mengimplementasi seluruh potensi yang ada.
  2. Pertemuan kedua ini dinilai berbeda dibandingkan sebelumnya karena materi diskusi sudah lebih maju dan lebih matang sehingga pihak Inggris dan Indonesia sangat antusias untuk menyambut pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan dalam periode enam bulan mendatang.
  3. Joint Program yang melibatkan beberapa perguruan tinggi membutuhkan perencanaan materi dan perencanaan yang lebih mantang.

Adapun beberapa hal yang dapat ditarik kesimpulan dari pertemuan adalah

  1. Mengenai Branch Campuses, yang akan mengarah kepada berbagai bidang kerja sama, akan dilakukan diskusi lanjutan setelah peraturan mengenai pendirian universitas asing di Indonesia telah selesai disahkan.
  2. Newton Program, pada tahun 2019 akan ditentukan tematik baru, sehingga pihak Indonesia dan pihak Inggris, sudah dapat memetakan fokus bidang baru kerjasama riset dan inovasi.
  3. Vocational Training and English Language Courses, yang telah di dukung oleh pihak di Indonesia maupun di Inggris,  merupakan ide yang bagus, dengan berfokus pada 20 universitas sebagai pilot project awal.
  4. Fokus studi untuk vocational higher education Institution, saat ini dilakukan pada bidang maritime dan health, sudah sangat berkembang dan dapat dipertimbangkan untuk bisa mengembangkan bidang-bidang kerja sama lainnya, seperti agriculture dan food akan dikembangkan kemudian.

Disepakati bahwa pertemuan ke-3  Komite Kerja Indonesia Inggris untuk bidang Pendidikan Tinggi dan Riset ini akan dilakukan pada Semester-1 Tahun 2019.

 

Windie Nababan, Indah, dan Baginda

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik

Kemenristekdikti