SIARAN PERS

No. 18/SP/HM/BKKP/III/2017

Jakarta, 9 Maret 2017

Upaya untuk membawa produk inovasi yang dihasilkan oleh Universitas, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di bawah koordinasi Kementerian Ristekdikti menjadi lebih dekat dengan industri terus dilakukan salah satunya bekerja sama dengan Mark Plus Inc. Melalui kerjasama ini Kemenristekdikti ingin mempromosikan produk inovasi dan juga menghasilkan bisnis/komersialisasi yang cocok bagi industri dan inventor.

Partisipasi industri perlu menjadi perhatian lebih dalam, sehingga upaya untuk melibatkan peran industri harus ditingkatkan. Beberapa masalah yang kerap mengemuka terkait hal ini diantaranya daya serap industri terhadap inovasi yang ada masih rendah dan belum optimal. Kemudian penelitian yang dihasilkan peneliti tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengungkapkan banyak riset-riset di perspustakaan yang dapat menjadi produk yang dibutuhkan.

“Daya saing suatu bangsa dapat dicapai salah satunya dengan inovasi. Tidak bisa inovasi tanpa riset. Riset akan bisa lebih baik dan akan menghasilkan inovasi yang baik, tenaga kerja yang baik, harus didorong dari sumberdaya manusia yang kompeten, yakni salah satunya para peneliti dan dosen,” ujarnya dalam acara Wow Brand Festive Day 2017 yang digelar Mark Plus Inc. pada Kamis, 9 Maret 2017 di Jakarta.

Kemenristekdikti melakukan banyak inisiatif untuk memperkuat inovasi nasional seperti dengan memberikan reward kepada peneliti, memfasilitasi pendanaan inovasi, dan pengembangan inovasi konsorsium.

Menristekdikti lebih lanjut menjelaskan riset yang dikembangkan selama ini dikelompokkan ke dalam tujuh bidang fokus. Pertama bidang teknologi pangan dan pertanian. Kedua bidang kesehatan dan obat-obatan. Ketiga teknologi informasi dimana sekarang dunia borderless alias tidak ada batasan lagi.

Menristekdikti mengandaikan apabila dengan kemajuan teknologi IT yang sedemikian pesat, suatu saat nanti Indonesia tidak perlu menggunakan E-KTP lagi tapi mampu membuat chip yang ditanamkan sebagai identitas penduduk. Nasir juga menyebutkan dalam hal pendidikan tinggi bukan tidak mungkin mahasiswa dapat berkuliah dari rumah saja dengan menggunakan teknologi IT.

Kelompok bidang fokus riset lainnya yakni teknologi transportasi, material maju, pertahanan, dan energi. Di bidang energi, sumber-sumber energi baru terbarukan seperti solar cell akan terus dikembangkan, dan tidak menutup kemungkinan tenaga nuklir yang juga saat ini digunakan oleh berbagai negara.

Arah kebijakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi ditujukan salah satunya adalah untuk meningkatkan inovasi bangsa dengan dengan 7 bidang fokus riset tersebut.

Menristekdikti menyebutkan, berbagai inovasi yang telah dihasilkan tidak akan sampai kepada pengguna apabila tidak ada investor. Investor akan melihat inovasi dari biaya yang harus dikeluarkan serta laba ruginya. Kalau inovasi bagus tapi cost mahal tidak akan dilirik. Oleh karena itu, Menristekdikti menginisiasi Innovator- Investor Forum yang akan menjadi tempat kolaborasi keduanya.

“Sehingga keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak ada nilai tambah yang bisa dimanfaatkan. Indonesia akan bisa berdaya saing dengan baik. Dan Global Competitiveness Index bisa meningkat,” ujarnya.

 

##