Pernahkah anda menonton film Big Hero? Film animasi ini berhasil meraih penghargaan Best Animation di perhelatan Academy Award tahun 2014. Pada tahun berikutnya Big Hero terpilih sebagai Favorite Animated Movie di ajang bergengsi Kids Choice Award. Yang menarik dalam film ini adalah salah satu tokohnya yaitu Baymax, robot berwarna putih nan lucu dan baik hati yang suka menolong. Film ini merupakan proyek kolaborasi dua perusahaan film dan animasi Disney dan Marvel.

Dalam film ini diceritakan, Baymax merupakan robot pendamping untuk menjaga manusia. Dia memiliki kecerdasan dan emosi yang menyerupai manusia. Apakah di dunia nyata manusia mampu menciptakan robot serupa di waktu yang kan datang? Sebuah sistem yang kompleks dengan algoritma rumit yang saling berhubungan dan dapat mengerti serta memahami apa yang diucapkan oleh manusia.

Emokit Tech Co Ltd, perusahaan pemula berbasis teknologi asal Cina menjawab keraguaan tersebut dalam presentasi yang berjudul “The Missing Piece for AI” di 7th APEC PPSTI Meeting di Peru, pada Rabu 11 Mei 2016.

Dalam presentasinya Dr. Lee yang mewakli Morning Way, Founder Emokit menjelaskan kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence (AI) kini mulai dikembangkan oleh industri startup tersebut. Artificial Intelligence adalah sebuah studi tentang bagaimana komputer mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan manusia.

Kebanyakan ahli membenarkan bahwa kecerdasan buatan atau AI berhubungan dengan dua ide dasar. Pertama, menyangkut proses pemikiran manusia dan kedua, bagaimana mempresentasikan proses tersebut melalui mesin seperti komputer, robot, dan lain sebagainya. Tak heran, mesin-mesin tersebut dibekali dengan kemampuan problem solving untuk mengukur kecerdasan dalam berbagai konteks.

“AI sekarang sudah berkembang tetapi AI tidak dapat memberikan beberapa pelayanan kerena tidak dapat membaca emosi,” jelasnya didepan anggota ekonomi.

Dr Lee menyatakan, Emokit akan fokus pada penelitian AI. Perusahaan startup ini sudah mendapatkan pinjaman dari Bank sebesar 300 ribu RBM dan mendapatkan dukungan dari Perintah Cina sebesar 600 ribu RBM. Hal ini membuktikan bahwa proyek yang dikerjakan Emokit memiliki peluang masa depan yang cerah sebagai perusahaan pemula. Untuk itu pihaknya kan terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan perusahaan.

Sebagai informasi, tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam pengembangan AI. Program AI pertama dilakukan pada tahun 1951 oleh Universitas Manchester untuk menjalankan program permainan naskah dan program permainan catur. Kemudian berlanjut dengan berbagai penelitian di tahun-tahun setelahnya. Kini program AI dikembangkan untuk mengoperasikan kendaraan untuk dikemudikan sendiri tanpa komunikasi dengan manusia, menggunakan GPS, komputer dan susunan sensor yang canggih, melintasi beberapa ratus mil daerah gurun yang menantang.

Bagaimana dengan Indonesia, apakah kita akan menyusul Cina mengembangkan AI? (ww/bkkp)