KUPANG – Siapa yang tak mengenal Sasando. Alunan suara alat musik yang merupakan khas Nusa Tenggara Timur itu amatlah indah. Apalagi bila dipadukan dengan alat musik lain, membuat orang terbuai karenanya.

Namun mungkin tak seindah kehidupan yang dijalani oleh Sharoniva Jaguastin Koanak. Kehidupannya kadang dapat membuat orang awam meneteskan air mata bila mendengar ceritanya lebih dalam.

Ditemui dirumahnya yang sederhana di Jalan Pulau Indah Kota Kupang oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, jumat (16/12), wanita yang diterima lewat jalur bidikmisi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana) ini mengaku amat bersyukur dapat berkuliah.

“Saya pikir saya akan bekerja saja setelah lulus dari SMA. Bagaimana bisa lanjut untuk kuliah, saat sekolah saja lumayan berat menanggungnya, karena ayah supir taksi yang belum jelas pendapatan tiap harinya,” ujarnya dengan logat kental NTT.

Tapi lalu ada bidikmisi, ungkapnya dengan malu-malu dihadapan Mohamad Nasir. Ia pun bercerita akhirnya bisa lanjut kuliah.

Samuel Koan orangtua Sharoniva sempat berputus asa anaknya tak dapat kuliah. “Kami pikir biaya kuliah mahal sekali, tak mungkin anak kami kuliah, tapi dengan beasiswa akhirnya bisa masuk. Kami bersyukur sekali Pak Menteri,” tuturnya.

Nasir mengatakan bahwa Sharoniva ini contoh yang baik dan bukti bahwa memang anak bidikmisi itu memang kebanyakan anak yang cerdas.

“Sharoniva ini IPK-nya sangat tinggi. Di semester 3 ini, dia mendapatkan IPK dengan angka 3,95. Ini harus diikuti oleh tidak hanya mahasiswa bidikmisi lain, tapi juga mahasiswa lainnya,” sahut Nasir.

Nasir berpesan agar Sharoniva terus bersemangat dalam belajar sehingga nanti bisa lulus dengan lebih baik lagi. Karena dokter hewan di NTT sangat dibutuhkan saat ini.

“Dan bila nanti ingin melanjutkan sekolah setelah lulus, kami akan coba bantu untuk dapatkan beasiswa. Ini sampai lulus profesi pun akan langsung kita bantu,” pungkasnya. (DZI)